Kembali ke Beranda

Sejarah Koran di Indonesia

 

Sejarah dan Perkembangan Koran di Indonesia
wikipedia bahasa Indonesia

Lebih dari 200 tahun koran atau surat kabar menjalankan fungsinya sebagai satu-satunya media penyampai berita kepada masyarakat dan sebagai sumber satu-satunya bagi masyarakat dalam mengakses dan memperoleh informasi yang sama secara bersamaan. Koran atau Surat kabar pertama kali diterbitkan di Negara Eropa pada abad ke-17. Di Indonesia sendiri, koran atau surat kabar berkembang di tengah masyarakat hingga sekarang. Sejarah mencatat bahwa produk mesin cetak Johann Gutenberg, telah mengambil peran yang cukup penting dalam perkembangan koran atau surat kabar di Indonesia dari berbagai aspek kehidupan di masyarakat.

Dua Waktu sejarah

Pada dasarnya, sejarah surat kabar di Indonesia terbagi dalam dua babak yakni babak pertama yang biasa disebut babak putih dan babak kedua antara tahun 1854 hingga Kebangkitan Nasional. Kedua babak inilah yang amat berperan dalam perkembangan surat kabar di Indonesia. Babak pertama adalah babak putih, yaitu saat Indonesia masih dalam keadaan terjajah oleh kolonialisme Belanda. Disebut babak putih karena surat kabar pada waktu itu mutlak milik orang-orang Eropa, berbahasa Belanda dan diperuntukkan bagi pembaca berbahasa Belanda. Kontennya hanya seputar kehidupan orang-orang Eropa dan tidak mempunyai kaitan kehidupan pribumi. Babak ini berlangsung antara tahun 1745-1854. Babak kedua yang berlangsung antara tahun 1854 hingga Kebangkitan Nasional secara kasar dapat dibagi dalam tiga periode, yakni:

Antara tahun 1854-1860
Dalam periode ini surat kabar dengan bahasa Belanda masih memegang peranan penting dalam dunia pers Indonesia, namun surat kabar dengan bahasa Melayu telah terbit bernama Slompret Melajoe di Semarang yang diterbitkan oleh H.C. Klinkert.

Antara tahun 1860-1880
Surat kabar dengan bahasa pra-Indonesia dan Melayu mulai banyak bermunculan tetapi yang menjadi pemimpin surat kabar-surat kabar ini semuanya adalah orang-orang dari peranakan Eropa.

Antara tahun 1881 sampai Kebangkitan Nasional
Periode ini mempunyai ciri tersendiri karena para pekerja pers terutama para redakturnya tidak lagi dari peranakan Eropa tetapi mulai banyak peranakan Tionghoa dan Indonesia atau biasa disebut dengan pribumi.

Lima Periode Surat Kabar Indonesia

Surat kabar di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang yang secara singkat terbagi dalam enam periode, yakni zaman Belanda, zaman Jepang, zaman kemerdekaan, zaman Orde Lama, zaman Orde Baru dan zaman reformasi. Berikut uraian singkat keenam periode bersejarah tersebut:

1. Zaman Belanda
Pada tahun 1744 dilakukanlah percobaan pertama untuk menerbitkan media massa dengan diterbitkannya surat kabar pertama pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan nama Bataviasche Nouvelles, tetapi surat kabar ini hanya mempunyai masa hidup selama dua tahun. Kemudian pada tahun 1828 diterbitkanlah Javasche Courant di Jakarta yang memuat berita-berita resmi pemerintahan, berita lelang dan berita kutipan dari harian-harian di Eropa. Mesin cetak pertama di Indonesia juga datang melalui Batavia (Jakarta) melalui seorang Nederland bernama W. Bruining dari Rotterdam yang kemudian menerbitkan surat kabar bernama Het Bataviasche Advertantie Blad yang memuat iklan-iklan dan berita-berita umum yang dikutip dari penerbitan resmi di Nederland (Staatscourant).
Di Surabaya sendiri pada periode ini telah terbit Soerabajasch Advertantiebland yang kemudian berganti menjadi Soerabajasch Niews en Advertantiebland. Sedang di Semarang terbit Semarangsche Advertetiebland dan De Semarangsche Courant. Secara umum surat kabar-surat kabar yang muncul saat itu tidak mempunyai arti secara politis karena cenderung pada iklan dari segi konten. Tirasnya tidak lebih dari 1000-1200 eksemplar tiap harinya. Setiap surat kabar yang beredar harulah melalui penyaringan oleh pihak pemerintahan Gubernur Jenderal di Bogor. Tidak hanya itu, surat kabar Belandapun terbit di daerah Sumatera dan Sulawesi. Di Padang terbit Soematra Courant, Padang Handeslsbland dan Bentara Melajoe. Di Makasar (Ujung Pandang) terbit Celebes Courant dan Makassarsch Handelsbland.
Pada tahun 1885 di seluruh daerah yang dikuasai Belanda telah terbit sekitar 16 surat kabar dalam bahasa Belanda dan 12 surat kabar dalam bahasa Melayu seperti, Bintang Barat, Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar (terbit di Bogor), Selompret Melayu dan Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya) dan surat kabar berbahasa Jawa, Bromatani yang terbit di Solo.

2. Zaman Jepang
Saat wajah penjajah berganti dan Jepang memasuki Indonesia, surat kabar-surat kabar yang beredar di Indonesia diambil alih secara pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan penghematan namun yang sebenarnya adalah agar pemerintah Jepang memperketat pengawasan terhadat isi surat kabar. Kantor Berita Antara diambil alih dan diubah menjadi kantor berita Yashima dengan berpusat di Domei, Jepang. Konten surat kabar dimanfaatkan sebagai alat propaganda untuk memuji-muji pemerintahan Jepang. Wartawan Indonesia saat itu bekerja sebagai pegawai sedang yang mempunyai kedudukan tinggi adalah orang-orang yang sengaja didatangkan dari Jepang.
Surat kabar Tjahaja
Salah satu surat kabar yang terbit pada masa ini adalah Tjahaja (ejaan baru Cahaya). Surat kabar ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dan penerbit berada di kota Bandung. Surat kabar ini terbit di Indonesia namun berisikan berita tentang segala kondisi yang terjadi di Jepang. Para pemimpinnya di antaranya adalah Oto Iskandar Dinata, R. Bratanata, dan Mohamad Kurdi.[1]
Pada tampilan tampak bahwa surat kabar tersebut bertuliskan tanggal 24 Shichigatsu 2604, yang pada penanggalan masehi sama dengan tanggal 24 Juli 1944.

3. Zaman Kemerdekaan
Ketika pemerintah Jepang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda pencitraan pemerintah, Indonesiapun melakukan hal yang sama untuk melakukan perlawanan dalam hal sabotase komunikasi. Edi Soeradi melakukan propaganda agar rakyat berdatangan pada Rapat Raksasa Ikada pada tanggal 19 September 1945 untuk mendengarkan pidato Bung Karno. Dalam perjalanannya, Berita Indonesia (BI) berulang kali mengalami pembredelan dimana selama pembredelan tersebut para pegawai kemudian ditampung oleh surat kabar Merdeka yang didirikan oleh B.M. Diah. Surat kabar perjuangan lainnya adalah Harian Rakyat dengan pemimpin redaksi Samsudin Sutan Makmr dan Rinto Alwi dimana surat kabar tersebut menampilkan “pojok” dan “Bang Golok” sebagai artikel. Surat kabar lainnya yan terbit pada masa ini adalah Soeara Indonesia, Pedoman Harian yang berubah menjadi Soeara Merdeka (Bandung), Kedaulatan Rakyat (Bukittinggi), Demokrasi (Padang) dan Oetoesan Soematra (Padang).

4. Zaman Orde Lama
Setelah dikeluarkannya dekret presiden tanggal 5 Juli 1959 oleh presiden Soekarno, terdapat larangan terhadap kegiatan politik termasuk pers. Persyaratan untuk mendapat Surat Izin Terbit dan Surat Izin Cetak diperketat yang kemudian situasi ini dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk melakukan slowdown atau mogok secara halus oleh para buruh dan pegawai surat kabar. Karyawan pada bagian setting melambatkan pekerjaannya yang membuat banyak kolom surat kabar tidak terisi menjelang batas waktu cetak (deadline). Pada akhirnya kolom tersebut diisi iklan gratis. Hal ini menimpa surat kabar Soerabaja Post dan Harian Pedoman di Jakarta. Pada periode ini banyak terjadi kasus antara surat kabar pro PKI dan anti PKI.

5. Zaman Orde Baru
Pada periode ini, surat kabar yang dipaksa untuk berafiliasi kembali mendapatkan pribadi awalnya, seperti Kedaulatan Rakyat yang pada zaman orde lama harus berganti menjadi Dwikora. Hal ini juga terjadi pada Pikiran Rakyat di Bandung. Bahkan pers kampuspun mulai aktif kembali. Namun dibalik itu semua, pengawasan dan pengekangan pada pers terutama dalam hal konten tetap diberlakukan. Pemberitaan yang dianggap merugikan pemerintah harus dibredel dan dihukum dengan dilakukan pencabutan SIUP seperti yang terjadi pada Sinar Harapan, tabloid Monitor dan Detik serta majalah Tempo dan Editor. Pers lagi-lagi dibayangi dalam kekuasaan pemerintah yang cenderung memborgol kebebasan pers dalam membuat berita serta menghilangkan fungsi pers sebagai kontrol sosial terhadap kinerja pemerintah. Pembredalanpun marak pada periode ini.

Tags : koran lowongan kerja di koran, koran pengumuman rups di koran, koran pengumuman di koran, koran prospektus di koran, koran dukacita di koran, koran lelang di koran, koran pelelangan di koran, koran laporan keuangan di koran, koran baris di koran, koran kolom di koran, koran display di koran, koran bali post, koran bandung ekspres, koran bangka belitung pos, koran bangka pos, koran banjarmasin post, koran banten raya post, koran batak pos, koran batam news, koran batam pos, koran bengkulu ekspress, koran berita kota, koran berita kota makassar, koran berita metro, koran bisnis indonesia, koran cenderawasih pos, koran denpasar post, koran dumai pos, koran fajar makassar, koran gorontalo pos, koran indopos, koran jakarta post, koran jambi ekspres, koran jambi independent, koran jawa pos, koran jurnal bogor, koran jurnal nasional, koran kalimantan post, koran kaltim pos, koran kalteng pos, koran kedaulatan rakyat, koran pos kendari ekspres, koran kompas, koran kontan, koran koran jakarta, koran koran tempo, koran lampu hijau, koran lampung post, koran linggau, koran lombok post mataram, koran luwuk pos, koran malang pos, koran malut pos, koran manado pos, koran medan bisnis, koran media indonesia, koran merapi, koran metro banjar, koran metro siantar, koran metro tapanuli, koran monitor depok, koran neraca, koran nonstop, koran padang ekspres, koran palembang pos, koran palopo pos, koran pare pos, koran pasundan express, koran pekanbaru pos, koran pelita, koran pikiran rakyat bandung, koran pontianak pos, koran pos kota, koran pos kupang, koran pos metro balikpapan, koran pos metro batam, koran pos metro jakarta, koran palopo pos, koran pos metro jambi, koran pos metro medan, koran pos metro padang, koran posko manado, koran prohaba banda aceh, koran radar bali, koran republika, koran radar banten, koran radar banyumas, koran radar bogor, koran radar bromo, koran radar cirebon, koran radar jogja, koran radar timika, koran radar kediri, koran radar lampung, koran radar madura, koran radar malang, koran radar mojokerto, koran radar palembang, koran radar pekalongan, koran radar sulteng, koran radar semarang, koran radar solo, koran radar sorong, koran radar tarakan, koran radar banjarmasin, koran radar tasikmalaya, koran radar tegal, koran radar ternate, koran radar tulungagung, koran radar lambar, koran rakyat bengkulu, koran rakyat lampung, koran rakyat merdeka, koran riau pos, koran satelit news, koran radar tanggerang, koran serambi indonesia, koran seputar indonesia, koran solo pos, koran sriwijaya pos, koran terbit, koran suara karya, koran suara merdeka, koran suara pembaruan, koran tribun kaltim, koran radar kotabumi, koran surya, koran tribun gorontalo, koran top score, koran ujung pandang ekspres, koran radar indramayu, koran radar junior, koran tribun pontianak, koran tangerang, koran radar kudus, koran radar tuba, koran radar lamsel, koran radar lamteng, koran radar sampit, koran radar sulbar, koran samarinda pos, koran suara ntb, koran sumatera ekspres, koran sumut pos, koran surabaya pos, koran tribun batam, koran tribun jabar, koran tribun sulut, koran tribun pekanbaru, koran timor express, kupang, koran warta kota, koran wawasan

 


Hubungi Kami

PT BAKTIARTHA PERDANA
Jl. Duta Darma VI Blok D6/10 Pondok Hijau
Ciputat, Jakarta Selatan
Phone : (021) 740 3423 Fax : (021) 740 3423
GSM : 0813 1019 0842
E-mail : evinuryati@yahoo.com

Jam Operasional
Senin s/d Jumat : Pukul 09.00 – 17.00 WIB
Sabtu : Pukul 09.00 – 12.00 WIB
Minggu dan Libur Nasional Tidak Beroperasi

Info kami di media sosial

Ikuti kami di Facebook, Twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Rekening Bank




Jajak Pendapat

Apakah Anda puas dengan layanan kami?

  Sangat Puas
  Puas
  Cukup Puas
  Biasa aja
  Tidak Puas

Note: Dibatasi 1 IP Address per survey

Video Informasi

Lihat Semua

Informasi Terbaru


DMCA.com Protection Status

mypagerank
Check Page Rank
Flag Counter